Skip to main content

Mencari Redha

Assalamualaikum,

"Hadapilah ujian hidup dengan mencari maksud di sebalik takdir-takdir Allah. Dengarlah suara tarbiah dan dakwah yang berbisik setiap kali kita diuji. Kebaikan dan keburukan hanya ada pada penilaian insan, tetapi di sisi Allah, apa yang ditakdirkan-Nya pasti satu kebaikan".
- Prakata; Nota Hati Seorang Lelaki, Ustaz Pahrol Mohamad Juoi.

Tidak ada pembuka bicara yang lebih tepat selain kata-kata di atas. Hadirnya mendahului ujian, seakan persediaan dan motivasi. Satu kenyataan yang tidak dapat dinafikan justeru memandu diri ke arah ketenangan hati. Takdir dan ujian adalah 'tema' bulan Disember. Cahaya di hujung terowong mungkin. Padahal takdir dan ujian wujud seiring usia selagi bernyawa sebelum ajal tiba. Penutup kepada tahun yang panjang sekaligus bekalan ilmu untuk tahun seterusnya.

Perjalan pendek dari Pulau Pinang ke Parit Buntar amat membuka minda. Pelajarannya mungkin tidak akan didapati walaupun dalam perjalan seribu batu kalau bukan kerana izin Allah. Banyak yang difikirkan dan banyak yang ingin diperkatakan. Terlalu banyak emosi yang ingin digambarkan. Terlalu banyak 'keadilan' yang ingin dituntut. Jelasnya, semua itu sekadar permainan perasaan. Kedegilan hati. Jadi ini adalah yang terbaik.

Hakikatnya, aku sedang mencari redha.
Dan ini adalah catatan ringkas pencarian tersebut...

Kita semua sekadar memenuhi takdir. Tidak ada yang bersalah. Tidak ada apa yang salah. Tidak ada sebarang penyesalan. Jadi kemaafan tidak perlu. Biasalah jika ada yang tercalar dan terluka. Yang luka pasti sembuh, yang sakit pasti ada penawarnya. Allah itu Maha Lemah Lembut dan Maha Pengasih... Redha itu adalah penawarnya. Pujuklah hati untuk redha. Mintalah kepada Allah, semoga dilembutkan hati yang satu itu untuk melihat redha. Bila redha itu ditemui, pulihlah semuanya.

Rasulullah bersabda: "Amat menarik hati keadaan orang beriman, semua pekerjaannya baik belaka, dan itu ada hanya pada orang beriman: Jika memperoleh kesenangan, dia bersyukur. Dan itu memberikannya kebaikan (pahala). Jika ditimpa bahaya (kesusahan), dia sabar dan itu juga memberikannya kebaikan”. Aku mahu jadi orang begini.
Jangan menangisi takdir yang tidak menyebelahi kita. Sebaliknya senyumlah; senyuman yang paling manis adalah senyuman ketika menerima ujian daripada Allah. Penuhilah takdir tersebut dan hiduplah memenuhi takdir yang seterusnya. Pilihlah jalan untuk takdir yang lebih baik dan memberi kebaikan kepada semua. Mati itu pasti, tapi kita boleh memilih untuk mati dalam iman atau tidak... Rahmat Allah itu Maha Luas. La tahzan.

Semua ini tidak mudah untuk dilakukan. Amat payah. Kerana itu percaya kepada Allah dan Zat-zatNya adalah sangat penting. Tidak ada kekuatan selain kekuatan anugerahNya yang mampu membantu dalam perjalanan mencari redha. Redha itu dicari dengan mencari Allah. Redha itu ditemui dengan menghayati ujianNya dan melihat hikmahNya. Ustaz Pahrol Mohamad Juoi menulis mengenai hikmah dalam entri Mencari Ketenangan Hati:

"Hikmah adalah sesuatu yang tersirat di sebalik yang tersurat. Hikmah dikurniakan sebagai hadiah paling besar dengan satu ujian. Hikmah hanya dapat ditempa oleh “mehnah” – didikan langsung daripada Allah melalui ujian-ujian-Nya. Rasulullah s.a.w. bersabda, “perumpamaan orang yang beriman apabila ditimpa ujian, bagai besi yang dimasukkan ke dalam api, lalu hilanglah karatnya (tahi besi) dan tinggallah yang baik sahaja!”
Jika tidak diuji, bagaimana hamba yang taat itu hendak mendapat pahala sabar, syukur, reda, pemaaf, qanaah daripada Tuhan? Maka dengan ujian bentuk inilah ada di kalangan para rasul ditingkatkan kepada darjat Ulul Azmi – yakni mereka yang paling gigih, sabar dan berani menanggung ujian. Ringkasnya, hikmah adalah kurnia termahal di sebalik ujian buat golongan para nabi, siddiqin, syuhada dan solihin ialah mereka yang sentiasa diuji".

"Pendek kata, bagi orang beriman, ujian bukanlah sesuatu yang negatif kerana Allah sentiasa mempunyai maksud-maksud yang baik di sebaliknya. Malah dalam keadaan berdosa sekalipun, ujian didatangkan-Nya sebagai satu pengampunan. Manakala dalam keadaan taat, ujian didatangkan untuk meningkatkan darjat. Justeru, telah sering para muqarrabin (orang yang hampir dengan Allah) tentang hikmah ujian dengan berkata: “Allah melapangkan bagi mu supaya engkau tidak selalu dalam kesempitan dan Allah menyempitkan bagi mu supaya engkau tidak hanyut dalam kelapangan, dan Allah melepaskan engkau dari keduanya, supaya engkau tidak bergantung kepada sesuatu selain Allah."

Nota kepada hati-hati yang juga mencari redha (Aku bukanlah hebat, jauh daripada sempurna. Ambillah mana yang baik): Bersabarlah – Sabar itu susah, tapi pulangannya menguntungkan. Sabar asas yang penting. Kalau tidak sabar, pasti terus melatah. Bila kita dalam perjalan menuju ke satu tempat yang kita tidak biasa, sudah tentu ada peta, ada guidelines untuk ke sana. Perlu juga perhatikan landmark, tanda arah dan papan tanda. Kalau memandu dengan laju, pasti ada yang terlepas pandang. Perlahan sedikit - di sinilah peranan sabar. Supaya dapat melihat dengan lebih jelas. Tarik nafas dahulu.



Semoga Allah anugerahkan redha...

*** Isnin, 12 Disember 2011, jam 3:18 petang, membaca Berdamailah Dengan Takdir oleh Ustaz Pahrol Mohamad Juoi. Kebetulan yang mengharukan... Memang takdir dan ujian adalah 'tema' bulan Disember~



Wassalam

Takdir
by Opick feat. Melly Goeslow

Dihempas gelombang dilemparkan angin
Sekisah ku bersedih ku bahagia
Di indah dunia yang berakhir sunyi
Langkah kaki di dalam rencana-Nya

Semua berjalan dalam kehendak-Nya
Nafas hidup cinta dan segalanya

Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, Ya Robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu, Ya Robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu Ya Robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu, Ya Robbi

Bila mungkin ada luka coba tersenyumlah
Bila mungkin tawa coba bersabarlah
Karena air mata tak abadi
Akan hilang dan berganti (hilang kan berganti)

Bila mungkin hidup hampa dirasa
Mungkinkan hati merindukan Dia
Karena hanya dengan-Nya hati tenang
Damai jiwa dan raga

Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, Ya Robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu, Ya Robbi
Dan tertakdir menjalani segala kehendak-Mu, Ya Robbi
Ku berserah ku berpasrah hanya pada-Mu, Ya Robbi
Hanya pada-Mu, Ya Robbi

Comments

Popular posts from this blog

Goodbye Ben Jern

Oh my... another good bye. Why laaaaaaaaaa~!

Today, we bid farewell and we wish a great future to our one and only Loh Ben Jern of #BenHafiz FlyFM. Our heroes of insanity.
It's the final 30 minutes of flying with Ben's craziness... So sad! Huhuhuhuhu. Ben Jern has been on air since 10 PM last night - slumber party katanya - and I only sleep 3 hours plus, listening to him sambil kemas barang.
I know, some of you might think: "What is wrong with this girl, crying over a DJ...". Clearly, you don't know Ben, you never listen to these #FunnyBigBoys #BenHafiz and you never listen to Mrs. Boopathy and Pak Jamil or their Krappi Call. They are the only person on earth who can make Malaysians do *obviously* crazy stuff over a phone call. Hahahaha. Ben is the most adorable talking goat. LOL!


*** They are airing the Grandmother of All Krappi Call again - where Ben finally got krappi-ed *** I was laughing madly in the car earlier this morning... And then I cried. Oh it was su…

Celebrate the Love: Bones and Booth

I have exam at 2 pm today and I've been burning the midnight oil. But I really really really want to share this: Bones and Booth's wedding vow. Well sort of wedding conversation, actually.
I love them and I am happy that the characters finally get their happy ending.

To Bones, the coolest geek I ever known, and to Booth, congratulations!


Booth: "You know, I worked really, really hard on my vows, but you know, now that we're here—look, hey, do you remember the last time that we were here, standing right around this spot? It was right in the beginning, before we really knew each other. I was trying to get away from you, because you were irritating me, and you chased me down and you caught up to me. I said to you, 'Listen, I just have to get all my ducks in a row,' right, and then you said to me, [Brennan: "I can be a duck."]. Yeah. We had been chasing each other for a long time, been chasing each other through wars and serial killers and ghosts and sn…

Getting Out of the Slump

Sometimes I feel like crying will solve everything. When I feel like that, I know I am in the slump - "The New Moon" slump. I called it that because I am in a similar state as Bella Swan in The New Moon after Edward Cullen left her.
"It's like a huge hole has been punched through my chest."
"Normal memories were still dangerous. If I let myself slip up, I’d end up with my arms clutching my chest to hold it together, gasping for air..."
These.
It's hard to get out from this state, but I have bounce back before. It took a lot of patience, a lot of determination, a generous amount of support, and most importantly: a strong will.
The strongest will is fueled by living up to the purpose of our creation - to submit and worship Allah.
Crying does solve everything; when you used up all your energy and cry in your solat and doa.
It is always the darkest before the new moon. And stars are the brightest during this time.

I'll find my way - I assure myse…